Perempuan itu jelas berbeda dari perempuan lain, karena dia Ibu saya. Buat saya, Ibu saya adalah orang paling spesial, perempuan yang paling perkasa, sabar dan bijak. Pendidikannya tinggi, dia seorang dokter gigi yang rendah hati dan memegang teguh prinsip Aristoteles......eh Archimedes....eh entahlah siapa itu filsuf yang dianut para dokter..... Pokoke, pointnya, filsuf itu berhasil membuat para dokter bersumpah untuk bantu orang dengan profesional tanpa memandang isi kantong pasiennya. Gitu kali isinya.....saya cuma nebak2 aja, karena saya bukan dokter gigi dan hanya tertarik jadi dokter hewan.
Dia yang sering membuat saya terpaksa duduk di kursi prakteknya saat gigi tetap saya baru tumbuh, karena gigi saya banyak bolongnya. Dia satu-satunya dokter gigi di dunia yang kalo meriksa gigi pasiennya (gigi saya) sambil "nyeplesi" tangan pasiennya. "Jorok! Gigi banyak yang bolong.......Males sikat gigi sih!"
Hmmm.....malpraktek.....praktek dengan kekerasan......Yaaah.....konsekuensi dokter gratisan.......
Beliau adalah dokter gigi yang memasangi saya kawat gigi karena gigi tengah saya bonggang, padahal gigi tengahnya sendiri bonggang kayak gua cilalay. Beliau adalah satu2nya dokter gigi yang di dunia yang bilang ke pasiennya, "Ya udah, kerjain sendiri lain kali..." tanpa takut prakteknya bangkrut, gak sabar karena saya tukang protes waktu kawat giginya dikencangkan. Hanya ungkapan kekesalan, dan bukan benar2 dimaksudkan demikian. Tapi biar praktisnya, untuk selanjutnya saya ambil obeng mesin jahit dan saya kencengkan sendiri kawat gigi saya kapan saja. Enam bulan kemudian, saya lapor ke Ibu saya sambil menarik bibir selebar2nya, menunjukkan kepada Ibu gigi tengah saya yang berhasil saya rapatkan sendiri. Ibu kaget setengah mati. Katanya, ada kuliah khusus sendiri untuk kawat gigi, dan koq saya bisa ngerapetin sendiri dengan baik hasilnya? Mungkin ini yang disebut bakat. Namanya juga anak dokter gigi.....
Awal perkawinannya, saya gak tau dia suka nangis apa nggak, karena saya asik main dengan Tunggal, ayam jago warna putih yang badannya gede, ayam saya yang umurnya sampe 6 th. Yang jelas dia survive mendampingi ayah saya. Prestasi luar biasa......! Karena gak pernah saya nggak stress mendampingi Ayah saya walau hanya 1 jam. Tapi setidaknya Ibu saya berhasil nyuruh Ayah saya ke tukang cukur. Keputusan yang tepat! Saya gak bisa bayangkan Ibu kudu praktek, ngurus rumah, masak, ngurus saya yg bengal (tapi kakak & adik saya lebih bengal.......), eh masih kudu nyukur Ayah saya lagi......cape deeehh.....
Dulu Ibu selalu memasak kue2 buat kami, dan setiap kali masak kue, jumlahnya selalu berlimpah. Waktu Ibu sangat berharga, jadi kalau ada kesempatan masak kue maka dia akan memasak dalam jumlah banyak. Saat2 itu adalah saat2 yang membahagiakan. Saya merasa orang paling kaya di dunia dengan tumpukan kue2 di meja makan.
Sekarang lain lagi.......Tidak pernah ada cemilan dirumah. Karena Ibu saya selalu sedia buah, katanya lebih sehat. Keputusan yang saya rutuki dalam hati. Karena saya pinginnya makan cake berkolesterol tinggi dan junk food. Tapi ya terpaksa dimakan aja lah itu buah....lha gak ada camilan....Ibu saya adalah nutritionist pribadi saya. Karena beliau lebih hapal saya tadi makan siang apa aja dan kudu makan apa aja untuk melengkapi makan siang saya yang slebor, padahal saya aja lupa hari ini makan siang apa nggak ya.....
Dia pandai berhemat. Kasian banget.....Harusnya dia married ama Liem Sioe LIong......Jadi saya juga gak perlu berhemat-hemat. Dia pandai menjahit baju. Waktu kecil saya ingat sering dibuatkan baju2 yang cantik2, salah satunya adalah mode terbaru saat itu yang pake penutup sejenis rompi. Baju yang cantik.....tapi saya suka sebal karena rompinya juga harus dipake dan selalu ada perselisihan kecil antara saya dengan Ibu tiap kali memakaikan saya baju itu habis mandi. Beberapa kali dipake lengkap dengan rompi, dan selanjutnya rompi itu ilang entah dimana. Mungkin ditengah alang-alang di depan rumah.
Ibu adalah perempuan tegar yang selalu bisa menguasai keadaan. Satu2nya saat2 dimana saya lihat Ibu saya panik dan dunia serasa kiamat adalah saat2 adik saya Agung step. Adik saya dulu sering step dan Ibu segera menarik lidah Agung supaya gak menutup jalan nafas, tidak peduli jari2nya tergigit kuat2 oleh Agung yang step. Saat itu pasti Ibu berteriak ke kami untuk segera ambil sendok pengganti jari2 ibu. Ngeri sekali liat gimana sendok itu bergemeretak digigit kuat2 oleh gigi2 Agung yang sedang tidak sadar, bukan mustahil jari2 Ibu bisa putus.
Perempuan itu melahirkan 3 anak yang mungkin membuat Ibu bangga, tapi pastinya lebih sering membuat Ibu capek, karena hampir tiap menit selalu ada panggilan, "Boooo'...............". Masing2 anak merasa urusannya penting, dan minta diperhatikan khusus.
Ibu sering menyuruh saya mengantar masakan yang dia masak buat para tetangga. Ungkapan persahabatan antar tetangga. Seringkali saya protes karena saya gak rela makanan yang enak2 ini buat tetangga, mending buat saya aja....Tapi Ibu selalu menenangkan saya bahwa buat saya udah dipisahkan dengan jumlah cukup banyak.
Ibu saya adalah perempuan luar biasa. Beliau selalu bangun pagi buta untuk mempersiapkan anak2nya berangkat sekolah. Full attention buat tiap anaknya. Tiap kali kami merasa mendapat perhatian spesial dan limpahan kasih sayang berlimpah ruah. Saat saya SD dan masuk siang, seringkali saya diajak ibu berbelanja dan pulangnya dibelikan ice cream. Ibu juga selalu rajin mengantarkan kami les renang dan badminton dengan mobil Fiat Sport-nya. Beliau juga yang punya inisiatif memasukkan kami kursus mengetik 10 jari saat libur sekolah, keahlian yang sangat membantu saya menulis di kemudian hari. Beliau juga yang selalu mendorong kami aktif di kegiatan sekolah untuk memperluas perspektif. Saat saya batuk berat hingga gak bisa nafas dan terpaksa gak sekolah, beliaulah yang membawakan saya semangkuk hangat kaldu ayam dan menyuapi saya. Sup hangat itu membuat batuk saya berhenti sesaat dan memberi kesempatan tidur nyenyak akibat kelelahan batuk.
HIngga hari ini, Ibu adalah orang pertama yang saya cari untuk menceritakan semua yang ada di pikiran saya, mengeluarkan komentar2 gak genah dengan bebas tanpa takut di judge begini-begitu, dan orang pertama yang saya tunjukkan foto2 yang saya ambil, dan...... ah.......segalanya...........Semua itu membuat saya suka heran gak keruan kalo ada klaim wanita karir itu membuat anak2nya merasa kekurangan kasih sayang. Karena sama sekali bukan itu yang kami rasakan dibesarkan oleh Ibu yang wanita karir.
Ibu yang matanya besar dulu sekarang sudah sipit karena keriput. Beliau adalah orang yang gak lupa tiap pagi menyitir kata2 bijak dari Al Quran, para ulama, dan bacaan2 positif lainnya, buat saya. Senang sekali punya asisten seperti ini, karena saya seringkali gak sempat membaca dan mendengarkan hal-hal yang baik itu. Semua itu selalu membuat hati saya tunduk kepada Yang Pengasih dengan suka rela. Selalu yakin akan kasihNya ditengah teman2 yang mulai memilih jalan atheist dan agnostik.
Perempuan itu juga selalu mengingatkan saya menjenguk kawan sakit dan memberi bantuan teman yang membutuhkan. Menurut beliau, saat teman kita bersenang-senang itu gak perlu ditemani, tapi pada saat susah teman kita wajib ditemani dan dibantu.
Setiap kali lebaran dan mendengar suara takbir di kejauhan, air matanya selalu mengucur deras tidak tertahankan. "Ingat Eyang......", katanya. Ibu yang perkasa itu masih tetap perkasa hingga sekarang, walaupun fisiknya sudah tidak mendukung. Beliau masih menuruti kemauan cucunya yang bandel minta digendong sehabis dimandikan, dan naik metro mini kemana-mana dipanas terik. Ah, seandainya saya boleh menyetir......atau punya mobil sendiri, pastilah tidak saya biarkan ibu saya kepanasan dan kelelahan menunggu bis kota siang hari sambil membawa belanjaan yang berat-berat. Setiap kali saya minta Ibu untuk menyerahkan saja kewajiban belanja ke saya, Ibu tidak tega memberikannya ke saya yang selalu pulang malam.
Dan, diatas segalanya, saya bersyukur......Sekarang Ibu masih bersama saya. Semoga Ibu sempat melihat saya menjadi mandiri, menyaksikan kebahagian atas pilihan2 hidup saya, dan bisa sempat membahagiakan Ibu. Saya begitu mencintai Ibu saya dan hari2 bahagia saya di Indonesia. Seandainya nanti Ibu berpulang saat saya masih studi di Belanda, saya berjanji tidak akan pulang ke Indonesia. Indonesia hanya mengingatkan hari2 bahagia saya bersama ibu dan canda tawa teman2.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar